Minggu, 18 November 2018

I Left My Heart In Prague



Prague, 26 Maret 2016


Judul postingan kali ini bener-bener menggambarkan perasaan hati saya dengan kota Prague, Prag atau Praha, whatever you named it hehe.. Prague punya kecantikan, pesona dan daya tariknya tersendiri. Sengaja saat Osternferien (libur paskah) tahun 2016 saya bener-bener niat untuk jalan-jalan ke kawasan Eropa Timur seperti Prague, Budapest dan Vienna. Tadinya sih mau lanjut ke kota-kota lainnya, tapi apa daya waktu dan juga dana yang terbatas mengharuskan saya untuk kembali ke Jerman.


lost in translation


Oke cerita sedikit mengenai kota ini, Prague merupakan Ibukota dari negara Republik Ceko yang terletak di tepi sungai Vitara dan didirikan pada era gothic. Dahulu kota ini juga merupakan ibukota Kekaisaran Romawi Suci. Selama lebih dari 11 abad, kota Prague telah menjadi pusat budaya, politik dan juga ekonomi dari negara Republik Ceko. Prague juga ditasbihkan sebagai salah satu kota yang paling cantik di Eropa. Sejak tahun 1992, kota ini masuk kedalam daftar UNESCO World Heritage Sites. Yang menarik juga dari Prague adalah satu-satunya kota besar yang tidak hancur akibat Perang Dunia II. Kabarnya saat itu Pak Kumis a.k.a Hitler ingin menjadikan Prague sebagai pusat budaya di Eropa. Prague tetap menjadi kota yang cantik dengan jalanan berbatu, halaman bertembok, dan gereja yang tak terhitung jumlahnya.


Bersama teman-teman, saya menghabiskan waktu di Prague selama 3 hari. Kami menginap di hostel A Plus Hostel Prague, yang letaknya persis di depan International Bus Station Florenc. Infonya bisa kalian lihat disini. Hari pertama tiba di Prague, saya menanti teman yang datang dari Munchen, Shara dan masih ada beberapa teman yang menyusul esok harinya. Setelah ketemuan di Bus Station, kami bergegas pergi ke Hostel untuk check in dan istirahat sejenak.


Puas istirahat dan selonjoran kaki kamipun siap mengeksplore Prague. Ohya, kata salah satu teman yang udah pernah ke Prague sebelumnya, KFC disini harganya amat sangat murah kalau dibandingkan dengan harga KFC di Jerman yang menjadi barang mahal. Bener aja dong, saat saya lewatin KFC, iseng aja gitu melihat daftar menu dan harga di kaca, dan ternyata gossip itu benar loh! Harga KFC disini murah banget. Sebagai perbandingan, paket berdua dengan 2 kentang, 4 potong ayam, 4 strips, 4 wings dan 2 salad yang dijual di KFC di Jerman harganya bisa mencapai 17 Euro. Harga di Prague dengan menu yang sama? Cukup 209Kc (Krona Czech) yang kalau diganti kurs Euro cuma sekitar 8 Euro. Amazing bukan?! HAIL KFC PRAGUE!!! Oleh sebab itu, selama 3 hari di Prague, tiap hari pasti ada menu KFC yang kita makan dan mengakibatkan tenggorakan saya sakit pemirsah. Huhu.


Powder Tower


Makan siang udah. So, saatnya explore bagian Old town Prague. Di daerah Old town Prague terdapat Prague Astronomical Clock, Church Our Lady Before Tyn, dan juga Old Town Square. Sebelumnya kami sempat mampir dulu ke Powder Tower. Bangunan tersebut adalah gerbang pemisah antara bagian Old Town dan New Town dari kota Prague dan sudah dibangun pada tahun 1475. Aslinya gerbang ini berjumlah 13. Sayang aja karena udah tua, jadi yang selamat hanya tinggal satu. 


 Suasana di Oldtown Praha





Prague Astronomical Clock


Lanjut, kami mengunjungi daerah Old town Square. Old town Square Prague sangat cantik, bangunannya masih sangat dirawat dengan baik, dan jalanan berbatu dengan sentuhan warna-warna pastel pada dinding dan genteng merah membuat kesan kuno semakin dapat! Cakep banget pokoknyah!! Puas liat-liat dan foto-foto, kami bergegas menuju Astrological Clock yang berada di tengah-tengah square. Ternyata jam astrologi ini sudah dipasang sejak tahun 1410, dan menjadikannya sebagai jam astronomi tertua di dunia yang masih aktif sampai sekarang. 


Saat itu jam menunjukan pukul 4 sore, kami masih sempat untuk naik ke menara Astronomical Clock untuk melihat kota Prague dari atas. Harga tiket masuknya sekitar 180Ck, sudah termasuk dengan full tour di Oldtown Square.


Church Our Lady Before Tyn


Dilihat dari atas, menurut saya kota Prague sangat mirip dengan kota Paris. Hanya saja, kalau Paris beratapkan biru, kota Prague beratapkan merah. Oleh karena itu juga Prague sering disebut sebagai "Paris from The East" atau "City of Hundred Towers" karena saking banyaknya tower atau menara yang berada di kota ini.


Kota Prague dari atas Astronomical Clock




Setelah itu, kami pergi menuju Charles Bridge. Charles Bridge merupakan salah satu must visit place nya Prague. Jembatan ini ramenya bukan main sama manusia. Jembatan ini dibangun di atas Vlatava River atas perintah Raja Charles IV. Nama jembatan ini dpakai untuk mengenang raja Charles.


Esok paginya, giliran saya dan Shara menjemput Ratih, atau yang akhirnya sering saya panggil Mba Nop. Dia adalah sahabatnya sahabat saya yang lagi mengunjungi kakaknya yang tinggal di Jerman, dan ingin ikut jalan-jalan bersama kami. So, sambil nunggu Mba Nop, kami duduk anteng sambil makan Parky's hihi.


enyak!


Kamipun bertemu Mba Nop dan kembali ke hostel untuk menaruh barang. Saatnya eksplor Prague Castle. Prague castle berada di seberang Charles Bridge. Dari sana, kami cukup berjalan kaki mengikuti petunjuk arah menuju castle. Jalan kaki ternyata lumayan loh, karena letak castle nya berada di atas bukit, jadi harus naik tangga lumayan bikin kaki pegel. Saat itu menunjukan pukul 11 pagi, kami sampai di pelataran castle. Ternyata Prague castle berada di dalam kompleks Hradni Straz (castle guard). Menurut sejarah, kastil ini dibangun pada tahun 880 dari dinasti Premyslid dan menurut Guiness Book of World Records, Prague castle merupakan komplek istana yang terbesar di dunia dengan luas mencapai 70.000 meter persegi. WOOWWWWW AMAZIIINGGGGG


















Cheers,
Annisa Asanti



Visit Heidelberg (Again) In Winter



Heidelberg, 3 Januari 2017





Untuk ketiga kalinya saya menyambangi kota romantis yang ada di negara bagian Baden Wuttenberg, yakni Heidelberg. Entah kenapa saya engga pernah bosen setiap ada yang ngajakin ke kota ini, atau setiap temen ada yang dateng ke Frankfurt, pasti dengan senang hati saya setanin dan anterin buat main ke Heidelberg. Menurut saya kota ini punya pesona sendiri. Hawanya adem aja gitu kalo ke sini. Mungkin karena Heidelberg dibilang kota romantis oleh banyak orang hehe. Padahal mah objek wisatanya engga banyak, cuma ada Altstadt (kota tua), Alte Bruecke (jembatan tua) dan juga Schloss (kastil) nya. So, untuk ketiga kalinya saya ke Heidelberg untuk menemani Kak Mala, kakak kelas yang dateng buat seminar dan juga Sari, adik kelas waktu jaman kuliah S1.




Yang membuat saya tetap excited buat dateng ke Heidelberg karena kami dateng di saat Winter alias musim dingin, yang dimana angin nya engga santai dan salju numpuk dimana-mana.. Tapi cocok buat foto-foto cantik dan kece. Cihuy! Kedatangan saya ketiga kalinya ke Heidelberg juga ketiga kalinya saya ngerasain Heidelberg di musim yang berbeda. Herbst-Winter-Fruhling udah pernah saya rasain. Tapi ya gitu deh, perginya masih sendiri atau engga sama temen. Semoga pas Sommer nanti bareng sama masnya yaah. AMIIIIIIINNNN!


Seperti biasa kami berangkat dari Frankfurt Hauptbahnhof pukul 10.00 dan sampai di Heidelberg Hauptbahnhof sekitar pukul 11.00. Karena engga sempet sarapan, maka kami langsung melipir cantik buat sarapan sekaligus makan siang di Mcd Hbf. Setelah amunisi penuh, kami langsung berangkat menuju objek wisata pertama yaitu Schloss Heidelberg. Kami turun di kota tua Heidelberg untuk naik Bergbahnen yang udah pernah saya ulas di sini. Suhu di Heidelberg menunjuk diangka -6 derajat yang cukup buat kami nafas engap-engapan karena disertai dengan angin yang lumayan kencang.


sarapan kurang sehat di McD 


Bener aja, begitu sampe di Schloss Heidelberg, subhanallah engga bohong pemandangannya bagus banget! Semua serba putih kaya di film Narnia. Cantik! Karena masih siang, jadi belum terlalu banyak pengunjung yang dateng, akhirnya kami foto-foto sampe puas di halaman Schloss dan sempet juga buat Snowman hihi.







Do you wanna build a snowman? - Princess Elsa


Kamipun masuk ke Schloss Heidelberg. Walaupun udah pernah dua kali sebelumnya masuk ke Schloss Heidelberg, tapi perasaan saya tetep aja penasaran gitu karena ternyata saat winter ke Heidelberg itu cakep banget ya engga bohong deh! Schloss yang sudah cantik bertambah cantik karena semua berwarna putih. Subhanallah banget deh.







Cheers,
Annisa Asanti

Mencari Romeo di Verona


Verona, 1 Januari 2016


Saya, Haqqo dan Nia berkesempatan untuk mampir di kota Verona. Kota yang engga kalah cantik dari kota-kota Italia lainnya. Kota ini ternyata menyimpan banyak keindahan. Kota yang mempunyai luas sekitar 3.109 km dan berada di provinsi Verona letaknya berada di antara Milan dan juga Venice, jadi seperti kurang pamor dengan dua kota besar tersebut. Tapi, kalo ditelaah lebih lanjut, kota ini cantik dan menarik banget! Pada tahu kan roman tersohor karya dari William Shakespeare yang berjudul Romeo dan Juliet? Nah rumah Juliet ini ada di kota Verona! Dan ternyata, kota ini punya julukan 'little Roma' loh!! So, pastinya kami engga ngelewati kesempatan buat mampir kesini.


Foto dari Arena di Verona by Arinal Haqqo






Tanggal 30 desember 2015 kami sampai di stasiun Porta Nuova pukul setengah sebelas malam. Suhu saat itu sekitar 0 derajat dan kami masih harus mencari rumah Air Bnb yang sudah kami pesan. Kata mbak-mbaknya sih rumahnya engga jauh dari stasiun, kurang lebih 5 menit. Tapi apa daya, kami molor 30 menit karena pakai acara nyasar hiks. Di Verona kami menginap selama 3 hari dua malam, sekalian menghabiskan malam tahun baru di sana hihihi.


Besok paginya, kami sarapan roti dan sereal yang sudah disiapkan oleh Georgina, host Air Bnb kami. Setelah sarapan, sekitar pukul 10 pagi kami berangkat ke pusat kota Verona. Selama disana kami engga pernah naik kendaraan umum, cukup mengandalkan kaki aja. Pertama-tama kami pergi ke rumah Juliet yang tersohor itu. Pasti tau dong ya cerita percintaan tragis dramatis Romeo dan Juliet??? Engga bisa dipungkiri, Casa di Guilleta atau Julliet's House menjadi salah satu magnet bagi para wisatawan yang datang ke Verona. Bagunan tersebut sendiri dibangun pada abad ke 13 terletak di Via Capello, pusat kota Verona dan ditinggali oleh keluarga Capello selama berabad-abad. Nah keluarga Capello ini namanya sedikit mirip dengan keluarga Capulet (keluarga Juliet), sehingga orang-orang mempercayain bahwa rumah ini dahulunya adalah rumah Juliet. Rumah ini dideklarasikan sebagai rumah Juliet untuk menarik wisatawan, dengan daya tarik utamanya adalah Balkon Juliet, Patung Juliet dan tradisi unik mengenai pasangan Romeo dan Juliet. Nah, banyak orang yang percaya, kalau kita memegang dada dari patung Juliet, kita pasti someday akan balik ke Verona...


 Balkon Juliet yang tersohor ituhh....


Sebenernya sampai sekarang masih terdapat kesimpang siuran mengapa bangunan ini dinamakan Julliet's House. Apakah benar dulunya Juliet pernah tinggal disana? Apakah benar kisah percintaan Romeo dan Juliet? Atau cerita semua itu sebenarnya engga pernah terjadi.. Mari kita tanya Galileo. LAH??!! Nah ada beberapa tradisi unik saat berada di rumah Juliet ini, Contohnya banyak orang-orang (khususnya para wanita) yang menulis surat kepada Juliet agar di pertemukan dengan kekasih hatinya kelak. Setelah itu, tulisan kita akan di tempet di sepanjang tembok rumah Juliet. Penampakan tembok rumah Juliet penuh dengan coretan-coretan maupun surat yang ditulis. Pun gue, Haqqo dan Nia engga ketinggalan buat curhat colongan ke Juliet hahahaha..


Dinding rumah Juliet yang penuh dengan tulisan (dan plester)


Dear Juliet........ (curcol masalah percintaan, hahaha)


Puas berada di rumah Juliet, kami lanjut jalan kaki mengitari pusat kota Verona. Tipikal kota tua, Verona cantik dan terkesan kuno. Banyak orang yang menjuluki kota ini sebagai 'the little Rome' karena setiap sudut di kota ini sangat cantik dan Italia banget hehe..


Monumen Dante di Piazza dei Signori






Arena di Verona, Mini-Amphitheaternya Colloseum





Verona Arena atau dalam bahasa Italia 'Arena di Verona' merupakan amphiteater pada masa kejayaan pemerintaha romawi. Konon, bangunan ini dibuat pada tahun 1 masehi. Berarti umur bangunan ini sudah lebih dari 2 ribu tahun ya. Ckckck.. Bisa dibilang, bangunan ini masih terawat jika dibandingkan dengan Colloseum yang ada di Roma. Nah, Verona Arena ini merupakan amphitheater ke tiga terbesar di Itali, Amphi pertama adalah Colloseum yang ada di Roma. Sampai sekarang, bangunan ini masih aktif dipakai untuk berbagai acara, salah satunya adalah konser. Dahulu, Verona Arena bisa menampung setidaknya 30.000 orang, namun saat ini karena untuk alasan keamanan hanya boleh memuat sekitar 15.000 orang. Bangunan ini pula sempat menjadi saksi bisu konser internasional sekelas Adele, Muse, Alicia Keys, sampai One Direction lohh!! Gokiiiilllllll!!! Untuk masuk ke Verona Arena, kami membayar tiket seharga 10 Euro.


Malam harinya, kami semua sudah standby di depan pelataran Verona Arena untuk melihat kembang api saat pergantian tahun. Beh, disana seperti lautan manusia. Banyak sekali orang! Tapi semua itu sangat worth it karena kembang apinya sangat bagus. Dan ini merupakan pengalaman saya pribadi pertama kali untuk menghabiskan tahun baru jauh dari rumah dan keluarga. Jadi masih sedikit norak dan emosional hehehe...


Happy New Year 2016 dari kami bertiga :D





Romantisnya kota Verona di malam hari


Sekian sudah trip Itali Utara saya da teman-teman kali ini. Trip ditutup di kota Verona yang sangat cantik, romantis dan beyond expected ini.






Cheers,
Annisa Asanti


Sabtu, 17 November 2018

The Magneficent Budapest (Part 2)

Budapest, 28 Maret 2016


Hari kedua di Budapest, kami bangun sedikit siang sekitar pukul 09.30, langsung sarapan dan kembali cus jalan-jalan. Rencana jalan-jalan kami hari ini lumayan padat, yaitu ke Vajdahunyad Castle, Heroes Square, Liberty Hill, Budapest Parliamant, Buda Castle, naik kapal Cruise di Danube River dan Monument Shoes on the Danube Bank. Hari ini kami malas jalan (jangan dicontoh ya man temann), akhirnya kami membeli tiket bus hop on off untuk mengelilingi seluruh atraksi-atraksi wisata selama di Budapest. Diitung-itung ternyata juga lebih irit tenaga, karena jalanan di bagian kota Buda banyak menanjak dan akan mengeluarkan banyak tenaga (baca: males jalan). Wekekekk...


monument shoes di Danube river


Monument Shoes on Danube Bank ini merupakan hasil gagasan dari seorang direktor film, Can Togay untuk mengenang para korban Jewish Hungaria yang dieksekusi di Danube River selama Perang Dunia II. Monumen ini berada di sisi kota Pest persis di depan pelataran gedung Parliamant. Sekitar 3.500 korban jiwa yang ditembak dan sekitar 800 orang diantaranya adalah Jewish. 


Foto di atas cruise dengan background Parliamant (dan juga pasangan, hiks!)


mencoba makanan khas Hungary, Langos. Yummmmm!


Di atas bus hop on off


Salah satu sisi di Vajdahunyad Castle


Heroes Hill





Sungai Danube yang membelah kota Buda dan Pest


Kalo masih engga percaya gimana cantiknya kota Budapest, monggo dilirik lagi video clip nya mbak Katty Perry - Firework. Gue aja tiap liat itu video clip hati masih aja deg-degan gimana gitu saking ngeliat cantiknya kota Budapest dan bangunan Buda Castle. Take me back to Budapest please!




Cheers,
Annisa A

Jumat, 28 April 2017

Trip To Istanbul, Turkey


Istanbul, 7 April 2017


Saya sampai di Attaturk Havalimani Airport sekitar pukul 01.00 dini hari. Pagi buta ini saya berencana untuk menunggu sampai pagi tiba untuk pergi menuju sultanahmet area, hotel saya berada. Walaupun sebenarnya badan dan mata sangat letih, karena saya menghabiskan hampir seharian untuk menunggu transit di Paris Charles de Gaulle Airport sebelum sampai di Istanbul Attaturk Havalimani Airport,  tapi rasanya begitu excited karena saya sudah menginjakkan kaki di tanah Ottoman. Cihuy!


Kali ini saya sebagai solo traveler agak sedikit was-was karena akan seorang diri selama 4 hari berada di Istanbul. Di tambah pula, takut kalau-kalau ada serangan teroris secara tiba-tiba karena baru saja saya mendapat kabar kalau di Stockholm terjadi serangan teror yang diduga dilakukan oleh IS. Tambah jiper lah ya *banyak-banyak bebacaan*. Sambil menunggu pagi tiba, saya membaca lagi itinerary yang sudah dibuat dengan seksama dan sambil mencari informasi tambahan mengenai nomer perdana yang rencananya akan dipakai selama berada di isini. Awalnya saya mengaktifkan paket roaming, tapi ternyata harganya amat sangat mahal, sekitar 12€/mb. Luar biasa! Mumpung dapat free wifi selama 1 jam di bandara, tak lupa saya mengabarkan teman-teman dan keluarga, kalau kalau sudah sampai dengan selamat. Salah satu teman saya, Bahram yang paling banyak membantu karena kebetulan dia pernah 5 tahun tinggal di Istanbul dan sangat tahu seluk beluk kota ini. Dia bilang, kalau tidak masalah jika wanita masih berjalan sendirian disana sampai sekitar pukul 11 malam, dan tetap berhati-hati dengan segerombolan cowok-cowok (cakep) :p. Dia juga yang menyarankan untuk membeli nomer just in case dalam keadaan darurat dan untuk sekedar mencari informasi ataupun update sosial media hoho. Akhirnya pilihan saya jatuh kepada Turkcell yang dijual di bandara dengan harga 125TL (30€ atau sekitar 422ribu rupiah) untuk paket sebesar 5Gb.



Jam menunjukan pukul 5 pagi, saya pergi mencari musholla untuk solat subuh dan mengganti baju. Selesai solat ganti baju, saya pergi menuju imigrasi. Tidak terlalu banyak orang dibandingkan saat saya baru landing dini hari tadi. Saya antri di barisan E-Visa. Mas-masnya cakep (eaaa), dia tersenyum tanpa bilang apa-apa dan passport saya dicap. Resmilah sudah saya masuk ke Turki!


Yang saya baca dibanyak blog-blog orang, jangan melakukan menukaran uang di bandara, karena harganya lebih mahal. Jadilah saya lebih memilih menggambil uang di atm dengan logo master card atau cirrus. Kebetulan saya ambil menggunakan kartu debit BCA, yang cuma dikenakan biaya administrasi sebesar 25rb rupiah. Cukup murah.


Hal pertama yang saya lakukan setelah resmi berada di Istanbul adalah pergi ke bagian informasi untuk bertanya dimana saya bisa membeli Istanbulkart dan juga Istanbul Museum Pass. Mas-masnya bilang, kalau Istanbulkart bisa dibeli langsung di mesin stasiun kereta dan Istanbul Museum Pass bisa dibeli di salah satu objek wisata. Btw, Istanbulkart adalah kartu yang dipakai sebagai alat pembayaran transportasi umum di Istanbul. Tarifnya termasuk murah, sekali perjalanan sebesar 2,30TL dan perjalanan berikutnya 1,65TL. Saya membeli dengan harga 20TL (6TL harga istanbulkart dan 14TL sebagai saldo awal).




Perjalanan dari Attaturk Havalimani Airport menuju Sultanahmet area memakan waktu sekitar 1 jam 10 menit. Dari Airport saya naik kereta M1A sampai Zeytinburnu station dan lanjut naik Metro T1 jurusan Kabatas dan turun di Sultanahmet station.Cuaca di Istanbul saat ini bisa dibilang lebih dingin dibanding di Jerman, sekitar 6 derajat. 


kereta masih sepi 




Sampai di Sultanahmet area sekitar pukul 7 pagi, dan saya bergegas mencari hostel untuk check in dan menaruh barang. Hostelnya ternyata sangat dekat dengan Hagia Sophia. Bahkan dari Balkon Hostel, Hagia Sophia bisa terlihat dengan jelas. Jaraknya hanya sekitar 2 menit berjalan kaki. Saya bermalam di Cheers Hostel, dengan harga 13€/malam untuk 4 female dorm. Hostelnya tidak begitu besar, tetapi sangat homey dan para staff nya sangat friendly (dan tentu saja ganteng-ganteng juga :p) Setelah check in dan rehat sejenak, pukul 08.15 pagi saya kembali pergi menuju Sultanahmet Area. Di Sultanahmet area ini terdapat Hagia Sophia, Blue Mosque (atau Sultanahmet Camii), Basilica Cistern, Topkapi Palace, Gulhane Park, Archaeological Museum, dan juga pemandian Hurem Hamam. Pertama saya ingin mengunjungi Hagia Sophia dan dilanjutkan dengan Blue Mosque.


Saat sampai di Sultanahmet area, saat itu masih sangat sepi, hanya ada bapak pembersih jalanan dan beberapa turis. Sekitar 20 menit, saya habiskan hanya untuk duduk di bangku taman. Saya pejamkan mata, karena begitu takjub dan sangat emosional hehehe. Akhirnya kesampaian juga untuk berada di Istanbul, kota yang amat sangat ingin saya kunjungi. Saat melihat Hagia Sophia dan Blue Mosque dari luar, hati saya berdetak sangat kencang, rasanya seperti mimpi berada di kota yang kaya dengan sejarah ini *melowww*.


Hagia Sophia, sekitar pukul 8 pagi


Puas duduk, saya jalan menuju Hagia Sophia. Ahya, mengenai Istanbul Museum Pass, bisa dipakai dalam waktu 5 hari dengan harga 85TL. Museum pass ini bisa digunakan berkunjung Hagia Sophia, Topkapi Palace, Harem, Archaeological Museum, Hagia Irene, Chora Church Museum, dan masih banyak lagi. Pilihan yang baik kalau ingin mengunjungi beberapa museum karena harganya akan jauh lebih murah.


Hagia Sophia sungguh cantik! nanti akan saya ceritakan dibagian ini. Puas berada di Hagia Sophia, saya pergi menuju Blue Mosque untuk solat zuhur. Kebetulan hari Jumat, jadi banyak banget orang yang datang untuk solat jumat. Setiap hari Jumat, Blue mosque ditutup untuk umum, hanya boleh dikunjungi oleh muslimin yang ingin melakukan ibadah solat.


Blue Mosque, foto diambil dari Sultanahmet garden

Sayang cuaca di hari Jumat tidak begitu bagus, mendung dan kadang hujan gerimis. Sehabis solat Jumat tadinya saya berencana untuk pergi ke Topkapi Palace Museum. Begitu sampai disana, antrian sudah mengular dan hujan. Sayapun mengurungkan niat dan berpikir besok saja dan pagi hari saya harus sudah antri disana. Engga jadi ke Topkapi Palace, saya pergi ke makam para sultan yang tidak jauh letaknya, ada di belakang Hagia Sophia. Disana terdapat makam dari Sultan Selim II, Sultan Murad III, Sultan Mehmed III, Sultan Mustafa I dan Sultan Ibrahim. Masuk ke sini engga bayar kok. Gratis!





Makam Sultan Mehmed III

Setelah dari Makan Sultan,karena masih gerimis, saya pergi menuju Basilica Cistern. Basilica Cistern merupakan bagunan yang ada dibawah tanah, dan dibangun pada abad ke 6 zaman kekaisaran Byzantine, masa pemerintahan Justinian I. Di postingan lain nanti, akan saya ceritakan lengkapnya ya :) 


Entrance Bacilica Cistren


Puas sekitar lebih dari satu jam berada di Basilica Cistern saya pergi menuju Hippodrome yang masih berada di kawasan Sultanahmet square. Sebenarnya puing-puing bekas dari Hippodrome sendiri itu sudah tidak ada lagi, hanya saja yang masih tersisa adalah Obelisk dan juga German Fountain. Hippodrome dulunya merupakan arena circus yang dipakai sebagai arena olahraga dan juga arena pertunjukan di masa Byzantium. Kata Hippodrome juga berasal dari bahasa Yunani, hippos yang berarti kuda dan dromos yang berarti jalan. Pada masanya pertunjukkan seperti balapan kuda sering diadakan di Hippodrome ini.  


Obelisk of Thutmose III


Dahulu, Hippodrome digunakan sebagai tempat pacuan kuda atau yang lebih dikenal dengan Chariot racing. Hippodrome dibagun di masa kekaisaran Byzantium. Hippodrome dibagun dimasa pemerintahan Kaisar Constantine dan mulai dibangun pada abad ke 3. Hippodome dulunya berukuran panjang 450m dan lebar 130m dan mampu menampung penonton setidaknya sebanyak 100ribu orang. Pada zaman Byzantium, Hippodrome merupakan pusat dari kehidupan kota, karena disana selalu diselenggarakan pacuan kuda.    


Pacuan kuda atau lebih dikenal dengan nama chariot racing
(sumber gambar: Google)


gambaran kemegahan Hippodrome pada masa Byzantium
(sumber gambar: Google)


Jam menunjukan pukul setengah 4 sore, saya beranjak dari Hippodrome menuju Grand Bazaar. Grand Bazaar merupakan salah satu pasar terbesar dan tertua yang ada di dunia. Dibangun sejak tahun 1455, Grand Bazaar mempunyai lebih dari 4000 toko dan yang setiap hari nya didatangi oleh 300ribu orang. Pada tahun 2014, diketahui lebih dari 92 juta orang menggunjungi tempat ini. Luar Biasa! Jaraknya lumayan dekat dari Sultanahmet Square, bisa ditempuh dengan berjalan kaki.Namun, saya naik Metro T1 menuju Grand Bazaar karena takut tidak bisa berlama-lama disana. Baru saat jalan pulang ke hostel saya memutuskan untuk berjalan kaki. FYI, Untuk masalah harga banyak yang bilang harga di Spicy Bazaar lebih murah dibandingkan dengan di Grand Bazaar. Saya sih kebetulan hanya berbelanja sedikit saja untuk oleh-oleh teman. Jadi engga masalah untuk berbelanja disini :)









Dari Grand Bazaar, perut saya amat sangat keroncongan. Saya lupa kalau belum makan siang. So, saya berenti dulu di salah satu restoran dan memesan sepiring aneka macam seafood dengan harga 20TL atau sekitar 5 euro dan juga teh khas Turki seharga 3TL. Saya bertekad selama di Turki untuk puas-puasin makan seafood karena kalau kembali lagi ke Jerman harganya sangat mahal huhu. Lanjut, saya jalan kaki ke daerah Universitas Istanbul sampai kembali ke daerah Sultanahmet Square. Rasa capek bener-bener udah engga bisa ditolerir. Akhirnya saya memutuskan kembali ke hostel untuk beristirahat. Lagipula jam sudah menunjukan pukul 6 sore dan saya rasa sudah cukup untuk saya berkeliling di hari pertama tanpa istirahat yang mumpuni. Dan benar saja, begitu sampai di hostel, saya tertidur pulas sampai pukul 5 subuh. Hahahaha memang umur sudah tidak bisa bohong ya.. So, I am ready for Istanbul day 2!! :D






Cheers,
Annisa A.