Tampilkan postingan dengan label FRIENDS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FRIENDS. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 November 2018

Seharian di Venice, Italy



Venice, 17 Juli 2018


Kali kedua ke tempat yang sama, Venice. Banyak sebutan untuk kota Venice, seperti "City of Water", "City Of Masks", "City of Bridges", "The Floating City" atau juga "City of Canals". Kalian pasti sudah tau ya, mengapa banyak sekali sebutan untuk kota Venice ini. Kota ini sangat cantik dan unik, karena di kelilingi oleh air, dan setidaknya mempunyai 400 jembatan. Kali kedua ini, saya pergi ke Venice bersama sahabat saya, Murni yang jauh-jauh datang dari Indonesia dalam rangka seminar di kota Munchen. Sengaja dia memperpanjang masa singgahnya di Jerman, untuk bisa berjalan-jalan, mumpung masih di Eropa katanya hehehe..


Kami terbang dari Hamburg dengan menggunakan cheap flight, Ryan Air yang ternyata engga cheap karena lagi high-season, dengan harga 73 Euro sekali jalan. namun, dibandingkan dengan maskapai lain saat itu, Ryan Air termasuk yang paling terjangkau. Kami berangkai dari student apartment saya pukul 5 subuh, mengejar penerbangan pada pukul 8 pagi. Perjalanan Hamburg-Venice kurang lebih memakan waktu 2jam. Sampai di airport Treviso Venice, kami harus naik shuttle bus untuk menuju pusat kota Venice dengan harga ticket 9 Euro/orang dengan waktu kurang lebih 40 menit. Kurang lebih pukul 11 siang, kami sudah sampai di central train station Santa Lucia untuk menyewa loker sebelumnya, karena malam hari kami akan lanjut ke Roma naik kereta. Kenapa kami menyewa loker? Karena kami akan eksplor Venice tanpa mau gerek-gerek koper. Untuk menyewa loker di Santai Lucia, kami membayar 8 Euro/Koper.


Hello from Us!!


Selesai titip koper, kami pergi mencari makan siang. Pilihan kami jatuh kepada Pizza. Yuummmmm!! Tiada lagi yang paling nikmat, ketika menikmati makanan di negara asal makanan tersebut hohoho... Makan selesai, saatnya untuk eksplor Venice! Btw, karena hari itu sangat panas, saya pun beli topi bertuliskan Venezia seharga 10 Euro.


Di depan Central Station Santa Lucia


Untuk mengeksplor Venice, kami cukup dengan berjalan kaki, karena tidak ada moda transportasi selain gondola dan juga ferry. Jalan-jalan gang yang cukup sempit dan juga banyaknya jembatan tidak memungkinkan untuk mobil melaju di sana.


Sudut-sudut kota Venice...




Murni the Explorer, temannya Dora ;p





Tujuan utama kami adalah menuju kawasan Piazza San Marco dan juga jembatan utama Rialto. Di Piazza San Marco, terdapat Bassilica San Marco, Clock Tower dan juga Doge's Palace. Basilica San Marco mempunyai julukan sebagai 'Church of Gold', karena bangunannya yang sangat megah dan melambangkan kemewahan dan kesuksesan Venezia. Interior di dalam Basilica ini terinspirasi dari gaya Byzantine, seperti bangunan Hagia Sophia yang ada di Istanbul, Turki.


Basilica San Marco tampak dari luar 


Setelah itu, kami masuk ke Doge's Palace yang sekarang di dalamnya merupakan museum dengan ticket masuk 20 Euro/Orang. Doge's Palace ini merupakan istana yang dibangun untuk para petinggi atau penguasa Venice kala itu. bangunan ini dibuat dengan gaya gothic. Namun, masih juga ada bekas-bekas bangunan yang bergaya Byzantine.


Doge's Palace






Inside Doge's Palace


Selesai mengeksplor Venice, jam sudah menunjukan pukul 8 malam, dan kami pun kembali menuju Santa Lucia Station untuk dinner dan menunggu kereta malam menuju Roma. Kali ini kami kembali ke Santa Lucia station menggunakan ferry dari depan area Piazza San Marco. Kembali kami merogoh kocek 3 Euro/orang untuk naik kapal Ferry sekali jalan. Sesampainya di Santa Lucia Station, pilihan kami jatuh kepada Pasta. Perut pun kenyang, kami mengambil koper yang dititip dan menanti kereta menuju Roma yang berangkat pukul 23:30.


 Full of Masks







Cheers,
Annisa A.


Visit Heidelberg (Again) In Winter



Heidelberg, 3 Januari 2017





Untuk ketiga kalinya saya menyambangi kota romantis yang ada di negara bagian Baden Wuttenberg, yakni Heidelberg. Entah kenapa saya engga pernah bosen setiap ada yang ngajakin ke kota ini, atau setiap temen ada yang dateng ke Frankfurt, pasti dengan senang hati saya setanin dan anterin buat main ke Heidelberg. Menurut saya kota ini punya pesona sendiri. Hawanya adem aja gitu kalo ke sini. Mungkin karena Heidelberg dibilang kota romantis oleh banyak orang hehe. Padahal mah objek wisatanya engga banyak, cuma ada Altstadt (kota tua), Alte Bruecke (jembatan tua) dan juga Schloss (kastil) nya. So, untuk ketiga kalinya saya ke Heidelberg untuk menemani Kak Mala, kakak kelas yang dateng buat seminar dan juga Sari, adik kelas waktu jaman kuliah S1.




Yang membuat saya tetap excited buat dateng ke Heidelberg karena kami dateng di saat Winter alias musim dingin, yang dimana angin nya engga santai dan salju numpuk dimana-mana.. Tapi cocok buat foto-foto cantik dan kece. Cihuy! Kedatangan saya ketiga kalinya ke Heidelberg juga ketiga kalinya saya ngerasain Heidelberg di musim yang berbeda. Herbst-Winter-Fruhling udah pernah saya rasain. Tapi ya gitu deh, perginya masih sendiri atau engga sama temen. Semoga pas Sommer nanti bareng sama masnya yaah. AMIIIIIIINNNN!


Seperti biasa kami berangkat dari Frankfurt Hauptbahnhof pukul 10.00 dan sampai di Heidelberg Hauptbahnhof sekitar pukul 11.00. Karena engga sempet sarapan, maka kami langsung melipir cantik buat sarapan sekaligus makan siang di Mcd Hbf. Setelah amunisi penuh, kami langsung berangkat menuju objek wisata pertama yaitu Schloss Heidelberg. Kami turun di kota tua Heidelberg untuk naik Bergbahnen yang udah pernah saya ulas di sini. Suhu di Heidelberg menunjuk diangka -6 derajat yang cukup buat kami nafas engap-engapan karena disertai dengan angin yang lumayan kencang.


sarapan kurang sehat di McD 


Bener aja, begitu sampe di Schloss Heidelberg, subhanallah engga bohong pemandangannya bagus banget! Semua serba putih kaya di film Narnia. Cantik! Karena masih siang, jadi belum terlalu banyak pengunjung yang dateng, akhirnya kami foto-foto sampe puas di halaman Schloss dan sempet juga buat Snowman hihi.







Do you wanna build a snowman? - Princess Elsa


Kamipun masuk ke Schloss Heidelberg. Walaupun udah pernah dua kali sebelumnya masuk ke Schloss Heidelberg, tapi perasaan saya tetep aja penasaran gitu karena ternyata saat winter ke Heidelberg itu cakep banget ya engga bohong deh! Schloss yang sudah cantik bertambah cantik karena semua berwarna putih. Subhanallah banget deh.







Cheers,
Annisa Asanti

Kamis, 18 Februari 2016

Seharian di Kota Pisa


Sebagai salah satu tempat wisata paling favorit di Italia, tentu aja saya engga melewatkan kota Pisa sebagai salah satu destinasi. Pisa terletak di daerah Tuscani, bagian pusat Italia dan juga merupakan ibukota dari Provinsi Pisa. Sebagai kota yang terkenal dengan menara miringnya, Pisa hanya mempunyai penduduk yang bisa dibilang sedikit, sekitar 90 ribu penduduk untuk sebuah kota wisata. Tapi memang sih kota ini ga begitu besar, dalam waktu seharian, bisa kok muterin kota ini.


Saya dan Nia berangkat dari hostel menuju Milano Centrale sekitar pukul 05.30 pagi demi mengejar kereta menuju Pisa yang berangkat pukul 06.10 pagi. Keliatannya sepele emang, hanya kami harus menembus suhu sekitar -2 dipagi buta itu. Kami juga jalan kaki menuju Milan Centrale dari Hostel sekitar 20 menit karena bus yang masih jarang dan Metro yang belum beroperasi pada jam segitu. #KamiWanitaSeterong. Kenapa kami memutuskan naik kereta menuju Pisa? karena lebih hemat uang dan juga waktu. Kereta yang kami naiki adalah semacam kereta regional di Italia, namanya Trenitalia. Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam dan merogoh kantong hanya 9 Euro per orang. Kami hanya PP dari Milan-Pisa balik lagi ke Milan.


Arrivare a Pisa!


Peta kota Pisa


Kami sampai di Pisa pukul 10.17 pagi dan langsung cari peta buat liat objek wisata dan petunjuk arahnya. Tujuan awal engga lain dan engga bukan adalah menara miring Pisa atau yang bahasa Italianya La Torre Pendente di Pisa atau biasa disebut sama orang-orang sana Torre di Pisa. Perjalanan dari Pisa Centrale menuju Torre di Pisa memakan waktu sekitar 30 menit udah pake nyasar-nyasar sedikit. Yang rada sedikit dibawa ekspektasi saya adalah, selama ini saya kira menara Pisa itu tinggi macam menara Eiffel, ternyata menaranya ga tinggi-tinggi amat. 


Menara miring ini terletak di kawasan Piazza Del Duomo. Sebenernya menara Pisa ini merupakan menara lonceng dari Katedral di Pisa. Menara ini letaknya di belakang Katedral dan merupakan struktur ketiga di Campo dei Miracoli Pisa. Usut punya usut, pada awalnya menara Pisa dibangun seperti menara pada umumnya, tapi karena pondasi dasar yang kurang sempurna, pada akhirnya menara ini menjadi miring. Menara ini mempunyai tinggi 55,86 m. Seperti yang dijelaskan mas-mas tour guide (ganteng) Italia, pembangunan menara Pisa ini dibuat dalam tiga tahap dalam jangka waktu 200 tahun. Pembangunan tahap pertama, yakni lantai satu dari campanile yang berbatu marmer dimulai pada tahun 1173 yang merupakan masa kejayaan pada zamannya. Lantai satu ini dikelilingi dengan pilar yang bertuliskan huruf klasik. Tapi, pada saat tahap pembangunan tahap pertama diketahui kalau menara ini melenceng miring sebesar 5 meter. Oleh sebab itu, menara ini akhirnya disebut menara miring Pisa.





Kawasan Piazza Del Duomo


Puas foto-foto di depan Pisa, kami memutuskan untuk makan siang di Resto Italia di depan menara Pisa. Saya memilih makanan Pizza sementara Nia makan Pasta Seafood (lupa nama Itali nya apa) Harganya bisa dibilang standar Resto dan rasanya pun enak. 



Buon Appetito!


Setelah perut terisi penuh, kami balik ke Piazza Del Duomo, kali ini ke bangunan sebelah menara Pisa, yakni Katedral Pisa dan Baptistri (Battistero di San Geovanni) dan lanjut ke Piazza dei Cavalieri. Tempat ini merupakan daerah kedua setelah Piazza Del Duomo yang dikunjungi oleh para turis. Disini merupakan pusat pemerintahan kota Pisa.


Battistero di San Geovanni


Piazza De Cavalieri


Kami kembali menuju Pisa Centrale pukul 17.00 untuk mengejar kereta menuju Milan pukul 17.42. Sesampainya di Milan kami janjian bertemu Haqqo di Milano Centrale dan pergi makan Kebab di Resto Turki dekat Hostel dengan harga seporsi hanya 2,50 Euro. Perfecto! 




Cheers,
Annisa A.



Serasa Mimpi Berada di Stadion San Siro


Jantung saya serasa mau copot saking deg-degannya karena akhirnya kesampaian juga merealisasikan impian dari jaman SMP, cinta pertama saya kepada klub sepakbola, AC Milan yaitu ke Stadion San Siro. OH MY GOD!!! Stadion ini tentu aja bukan sembarang Stadion, karena merupakan 'kandang' dari dua klub besar, yakni AC Milan dan Inter Milan. Saya sebagai Milanisti (sebutan buat fans AC Milan) tentu aja punya mimpi untuk menyambangi markas klub ini.


Stadion San Siro ini terletak di daerah San Siro, tepatnya di Via Piccolomini 5. Jadi, pada awalnya stadion San Siro adalah markas dari AC Milan, sampai akhirnya Milan harus berbagi "rumah" dengan tim bebuyutan yang juga sekota yakni, Inter Milan. Nah, untuk masalah penggunaan nama, masing-masing suporter punya sebutan yang berbeda buat stadion ini. Untuk para Milanisti (termasuk saya), lebih senang menyebut stadion ini dengan nama San Siro Stadion, sementara untuk Interisti, lebih senang menyebut dengan nama Giuseppe Meazza Stadion. FYI, Giuseppe Meazza sendiri adalah nama pemain yang pernah membela kedua klub ini, Milan dan juga Inter.


THIS IS IT, STADION SAN SIROOOOO!!


Kali ini saya menyambangi San Siro bersama sohib lainnya, Haqqo karena kami sama-sama penggila bola. Nia lebih milih buat ngerjain presentasinya sambil nyeruput kopi di daerah Duomo. Rencananya kami mau mengunjungi San Siro Museum, karena rasanya ga cukup cuma liat Stadion dari luarnya aja. Museum buka dari pukul 10 pagi dan tepat pukul 10 kami udah sampe disana. Tiket masuknya seharga 17 Euro untuk masuk san siro museum dan juga stadion san siro. Lumayan mahal sih, tapi sekali lagi, "uang dapat dicari, tapi kenangan tidak dapat dibeli". Tsadap!



Begitu sampai di dalam San Siro Museum, semua benda-benda bersejarah antara dua klub bebuyutan itu berjejeran sangat rapi. Di mulai dari patung dua kapten keseblasan AC Milan dan juga Inter, yaitu Paolo Maldini dan juga Javier Zanetti. Yang paling membuat saya amazing tentu aja trophy-trophy yang dipajang disana. AAAKKK!! Piala Liga Champions, Super Copa, Liga Italia, Intercontinental, UEFA Cup, dll semua dipajang disana. Banyak juga benda-benda historikal lainnya seperti seragam sepak bola dan juga bola yang dipakai di pertandingan-pertandingan penting, seperti derby milano, final liga champions atau UEFA cup. Ohya, di sini kami ketemu banyak turis dari Indonesia loh :D



di dalam san siro museum



Trophy Champions League!





Salah satu spot yang paling saya cari adalah barang peninggalan pemain bintang dari ke dua klub tersebut. Saya cari-cari jodoh masa depan (maunya sih gitu), sampe akhirnya saya dipertemukan Tuhan sama (barang peninggalannya) Kaka!! Dari mulai baju, tanda-tangan sampai foto Kaka lengkap semua ada disitu. Aaaaakkkkkkk! Saya seperti dipertemukan sama jodoh. *nangis terharu*. Saya pandangi lekat-lekat benda-benda yang pernah dipake Kaka. Ya Allah, ini engga mimpi kan?? Ini semua nyata bukaan?? #lebeh


Foto bersama (barang-barang) Kaka


Puas muterin San siro museum dan mandangin barang-barang Kaka *teteup*, saya dan Haqqo bergerak menuju Stadion. Sebelum masuk ke Stadion kami masuk ke bagian ruang ganti pemain AC Milan dan Inter. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKK Trio Belanda, Paolo Maldini, Kaka, Shevchenko, Gatusso, Pirlo, Nesta, Crespo, Ronaldinho, Beckham, dkk pernah duduk-duduk sambil bertelanjang dada disini. *tampar* *kemudian histeris lagi* 


kursi-kursi di ruang ganti AC Milan





 Ruang ganti Inter Milan 


Lanjut, kami jalan ke Stadion Utama San Siro. Beh rasanya beda banget euy sama GBK! Stadion yang dulunya cuma bisa saya liat di tv ajah, tiap minggu saat nonton pertandingan AC Milan, akhirnya bisa nginjek rumput San Siro! #CitacitaAimKesampaianJugaYaOloh. Stadion ini seenggaknya bisa menampung 89.000 penonton. Gede banget kan macem GBK!













Ga kerasa, saya dan Haqqo udah 5 jam muterin Stadion San Siro. Kami bergegas cus balik ke Duomo buat janjian balik sama Nia yang udah nungguin daritadi ( kami ngarep sejam ;p) Pokoknya, pengalaman Ke Stadion San Siro magnificooooooooo!! Serasa mimpi!!!!!! :D








Cheers,
Annisa A.

Ciao Milan!


Perjalanan Konstanz menuju Milan kurang lebih memakan waktu 7 jam dengan Bus, mayan yaa buat pantat pegel. Persiapan sudah saya dan Nia buat rapih dari buku bacaan, cemilan, sampai bantal leher. Rute perjalanan kami melewati Zurich, Swiss. bus kami berenti sekitar 15 menit untuk mengangkut penumpang lainnya. Lumayan, mampir di Zurich (terminal lebih tepatnya) selama 15 menit. 


Di perjalanan Konstanz - Milan


Nia, yang sebenernya "kabur" disela-sela persiapan klausurnya, niat banget bawa laptop dan segala macam bahan presentasi untuk bulan Januari. Salut lah liburan sambil niat buat presentasi pula! Niatan saya selama perjalanan emang buat tidur sekalian isi tenaga, berbanding terbalik sama Nia yang anteng di depan laptop selama perjalanan. Begitu mau tidur ternyata pemandangan selama diperjalanan menuju Milan bagus bangeeeeeeettttt!!! Cantiiiikkk!! Subhanallah!! Ternyata bus kami melewati rute Swiss yang emang terkenal dengan pemandangan super kecenya. Banyak gunung dan juga danau-danau kece. Sayapun akhirnya ga jadi tidur sibuk foto-foto walaupun cuma dari dalem bus.


Pemandangannyaaaaaaaaa







Akhirnya saya dan Nia tiba di Milan, di Bus Station Lampugnano pukul 14.40. Jantung saya deg-degan banget terlalu excited karena ini ada kota impian dari jaman SMP aaakk! Walaupun banyak orang (teman-teman juga) yang bilang kalau di Milan engga ada apa-apanya, tapi saya tetap cinta mati sama kota ini. Tujuan utama kami adalah Hostel yang akan kami tempati selama 2 malam, ada di sekitar daerah Metro Pasteur, namanya Hostel California. Kami nginep di kamar female dorm bunk bed 8 orang. Tiket harian di Milan bisa dibilang murah, saya cukup mengeluarkan 4,50€ untuk jangka waktu 24jam. Seperti tiket harian pada umumnya, tiket ini bisa digunakan untuk semua alat transportasi di Milan (maksimal 20 kali pemakaian). Saya cukup kaget ngeliat Metro di Milan. Kondisinya lebih bagus dan bersih jika dibandingkan Metro yang pernah saya naiki di Paris.

sampai di Lampugnano


Mesin tiket di Milan dengan latar mas-mas cakep


Begitu sampai di Hostel, kami istirahat sejenak meluruskan badan. Rencananya, tujuan kami malam ini ialah Milan Cathedral atau yang dikenal dengan nama Duomo di Milano dan juga Galleria Vittorio Emanuele II, pusat perbelanjaan paling tenar se-Milan dengan banyak jejeran toko mahal. Balik ke Duomo, Katedral ini merupakan bagunan yang bernuansa Gotik dan terbesar di Italia. Untuk sampai di sini, saya naik Metro (M1), turun di Duomo Station.


di depan Duomo Milan

di dalam Galleria Vittorio Emanuele II, suasana natalnya berasa banget!


Cuaca kala itu lagi engga bersahabat. Dingin banget! sekitar -1 kalo ga salah. Yang niatan awalnya kami cuma mau muterin sekitaran Duomo, akhirnya ended up masuk keluar toko, numpang ngangetin badan. Ternyata keputusan kami salah pemirsah! Di dalam toko berjejer banyak tulisan "SALE" "SALE" "SALE".. OH TIDAK! Selamatkan dompet hamba dari godaan terkutuk Tuhan. Untung tak dapat ditolak, saya berhasil menyelamatkan dompet dari godaan tulisan SALE terkutuk meski kudu drama galau dulu karena ada celana jeans yang ditaksir.. Tapi karena koper saya udah penuh dari awal berangkat, akhirnya saya ga jadi beli haha. Sementara Nia, doi akhirnya kalap beli celana sama jaket dengan dalih, "warna jeansnya gue belum punya tan dan jaketnya bisa gue pake buat winter tahun depan.." ALESAAANN! 





Cheers,
Annisa A

Rabu, 14 Januari 2015

South Sulawesi Trip: Day 2


Berikut adalah lanjutan cerita gue bersama teman-teman saat kami melakukan South Sulawesi Trip. Mudah-mudahan engga basi yaaa :)))




Pagi hari, kami yang udah ditunggu oleh Pak Bilqi untuk bersnorkle ria. Pukul 7 teng, setelah sarapan pisang goreng di Riswan Guesthouse tanpa mandi kami pergi ke pantai, tempat janjian kami dengan doi. Ciyee ciyee janjian sama Pak Bilqi...





Langsung ajah, engga lama setelah ketemu Pak Bilqi kami bertujuh naik speed boat menuju pulau pertama tujuan kami kali ini, yaitu Pulau Kambing. Ternyata usut punya usut Pulau Kambing itu engga berpenghuni (versi Pak Bilqi). Makanya dinamai Pulau Kambing karena penghuninya hanya binatang hehe. Yang belum tau tentang Pulau Kambing, banyak yang bilang kalau Pulau Kambing adalah must visitnya Tanjung Bira. Kenapa? Karena karakter taman laut di sini mirip-mirip dengan taman laut Bunaken. Disini, spot buat snorklenya super duper kece! Lautnya keliatan gradasi warna biru tua, biru muda sampai tosca. Subhanallah....... Di perjalanan ke Pulau Kambing, kami disambut oleh kerumunan lumba-lumba yang berenang di samping speed boat kami. Tapi sayang kami ga sempat mengabadikan moment itu karena keasikan liat lumba-lumba dari deket. Huhu 



Tepi Pulau Kambing




 Saatnya mulai Snorkle :D


Terumbu Karang di Pulau Kambing


Tim snorkle kami dibagi dua. Tim pertama terdiri dari Risa, Unni, Cyn, dan gue. Tim kedua Haqqo, Buja dan Tika. Setiap tim punya waktu sekitar satu jam buat snorkle keliling Pulau Kambing ditemenin sama Pak Bilqi. Begitu melihat dasar lautnya, Speechleeeeeess! Juranng-jurang curam yang ada di dasar laut ditumbuhi berbagai terumbu karang cantik dan banyak ikan-ikan hias warna warni bisa kalian liat disini. Even words can't describe... *lebeh*




Turun dari Speedboat *abaikan muka gue* 

Setelah puas snorkle berkeliling Pulau Kambing, Pak Bilqi mengajak kami ke destinasi kedua, yaitu Pulau Liukang Loe. Nah pulau ini baru dihuni oleh warga. Tapi katanya engga sampai dari 100 orang. Ada beberapa penginapan juga di Pulau Liukang Loe ini. Jam menunjukan pukul 10, karena matahari udah mulai ga santai, cuma Unni, Buja dan Cyn yang berenang disini, sementara sisanya yang kecapean dan takut item cuma nunggu di speed boat :p

Cyn si ga takut matahari :p




Di perjalanan balik, kami melihat ada semacam bangunan apung di tengah lautan. Kata Pak Bilqi itu adalah tempat penangkaran penyu. Langsung aja kami minta diantar kesana. Untuk masuk, dipungut biaya 5.000 Rupiah per orang, bisa foto-foto sama penyu plus dapet welcome drink. Kalau kalian mau berenang langsung bareng Penyu, bisa juga loh! Tapi harus bayar lagi sebesar 10.000. Setelah puas foto-foto bareng penyu, kami bergegas kembali ke guesthouse karena harus berangkat kembali ke Makassar.


Setelah mandi dan pastinya sudah kembali cantik, kami berangkat kembali menuju Makassar. Di mobil, kami bertanya ke Pak Basri dimana tempat pembuatan kapan Phinisi. Kata Pak Basri tempat pembuatannya ga jauh dari sana. Ya sekalian sudahlah kami pergi kesana.


Total perjalanan kami kembali sampai Makassar sekitar 7 jam karena kami berhenti untuk makan siang. Sampai Makassar, jam menunjukan pukul setengah 8 malam dan perut kami sudah mulai bernyanyi merdu minta diisi makan. Pak Basri mengajak kami untuk makan Palubasa, yang lagi lagi murah pemirsah! Kami yang kelaperan sampai nambah dua kali dan budget awal yang sekali makan 50ribu masih ada kembaliannyah hihihi. Memang Makassar benar-benar surga makanan. Semua serba murah dan enaaakk!  


Selesai makan, kami diantar Pak Basri ke rumah saudara dari Haqqo. Sesampainya di rumah saudara Haqqo, kami disambut oleh welcome drink dan welcome food. *elus elus perut*. Saatnya istirahat, karena besoknya kami mau keliling kota Makassar. Yuhuuuuuuuuu




Cheers,
Annisa A.